Originally published in Majalah SCG Edisi Juli 2013

Belanja iklan pada 2012 lalu mencapai Rp 87 triliun. Jumlah ini meningkat 20 persen dari tahun sebelumnya. Dan kecenderungannya, hingga akhir tahun 2013 nanti, jumlahnya akan semakin meningkat.

Demikian diungkapkan Kresnayana Yahya, Business Observer, pada kesempatan Kupas Bisnis dengan tema Advertising & Branding – Turn ThemInto Business, akhir Mei lalu di Spazio 2nd floor.

“Ini menunjukkan industri kreatif di Indonesia sangat menjanjikan perkembangannya. Perputaran uang di dalamnya juga tergolong besar,” terangnya.

Untuk itu, memasuki era seperti ini, sangat diperlukan strategi dan kecakapan kreatif yang lebih besar. “Kita harus punya ide kreatif, pandai membidik kesempatan, mengetahui siapa target pasar, pintar meraih keuntungan, dan memiliki kekuatan brand yang andal,” tegasnya.

Sementara Hermawan Tanzil, Founder of LeBoYe Design Jakarta, mengungkapkan abad 20 silam, masanya advertising. Kini, abad 21 adalah eranya disain. Disain menjadi alat mengkomunikasikan produk dan jasa yang lebih mengena.

Disain, menurutnya, bisa menjadi alat komunikasi yang efektif untuk menyampaikan sebuah produk. Perusahaan, tegasnya, harus memiliki the power of design, karena disain merupakan salah satu strategi dalam pemasaran. Disain adalah hal penting dalam promosi,” tukasnya.

Dalam mengembangkan usaha, lanjutnya, disain merupakan faktor penentu. Apakah sebuah produk akan mudah diingat dan mampu menarik konsumen, lalu memutuskan membeli produk tersebut, bisa dipengaruhi oleh disain. Disain juga mampu menampilkan kesan tertentu tentang sebuah perusahaan atau produk.

“The power of design dapat dimiliki jika make your self exited (disain bisa membuat hidup lebih baik, indah, menarik). Disain itu juga memungkinkan segala sesuatu, think global with Identity, setiap design, laiknya menampilkan diri kita sendiri, never think that your client has a bad tasted (jangan pernah menganggap klien memiliki taste yang jelek),” jelasnya.

Selain itu, perkembangan disain juga sangat mencengangkan. Betapa tidak, dulu di Indonesia hanya ada 6 universitas yang memiliki jurusan disain. Sementara kini, sudah berkembang hingga ada 70 lebih kampus yang memiliki jurusan disain. Sehingga, jumlah lulusan bidang disain juga semakin bertambah banyak dan bentuk disain juga mengalami banyak perubahan.

“Artinya, apresiasi terhadap disain sudah sangat baik, sehingga banyak perusahaan besar yang mengandalkan disain sebagai alat mengkomunikasikan dirinya,” tuturnya.

Untuk itu, kata Aulia Rachmat Sungkar, Writerpreneur, semua produk harus dibranding dengan baik. Tidak terkecuali apakah target konsumennya menengah ke atas, atau bahkan menengah ke bawah.

Copywriter asal Jakarta itu mengatakan, dalam konteks branding, sebuah tulisan bisa sangat mendukung sebuah produk yang akan ditawarkan kepada konsumen.

“Prinsipnya, tulisan harus mudah diingat. Tulisan harus mengandung prinsip keep it short and simple (KISS),” tuturnya.

Ia menambahkan, dalam membuat tulisan, pemilihan katanya harus mewakili produk yang ditawarkan. Harus sesuai dengan pasar yang dibidik, dan jangan sampai salah sasaran.

“Tulisan yang dibuat untuk menggambarkan produk tersebut, harus sesuai siapa audience yang akan dituju,” tegasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: