FIJC, ALVEO hold seminar on ‘Content as Marketing’

Fortice Indonesian Japanese Chambers (FIJC) collaborated with PT Alveo Wira Indonesia (ALVEO) to hold a seminar carrying the theme “Content as Marketing – how to create content writing that boosts productivity“. Taking place in Fortice Office in Sentral Senayan II, Jakarta on Sept. 19, 2017; the seminar presented Aulia R. Sungkar, founder of the Writerpreneur and director of ALVEO, as the speaker; and saw the attendance of Indonesian and Japanese participants from various industries.

Perkuat Branding dengan KISS

Oleh: Wakhid Muqodam. Artikel dipublikasi di Surabaya City Guide edisi Juli 2013.

Semua produk harus dibranding dengan baik. Tidak terkecuali apakah target konsumennya menengah ke atas, atau bahkan menengah ke bawah.

Ollie-Kupas Bisnis

Konsep ditegaskan Aulia Rachmat Sungkar, Writerpreneur, ketika menjadi pembicara pada Kupas Bisnis bertema Advertising & Branding – Turn Them Into Business, akhir Mei lalu di Spazio 2nd floor.

Copywriter asal Jakarta itu mengatakan, dalam konteks branding, sebuah tulisan bisa sangat mendukung sebuah produk yang akan ditawarkan kepada konsumen.

“Prinsipnya, tulisan harus mudah diingat. Tulisan harus mengandung prinsip keep it short and simple (KISS),” tuturnya.

Ia menambahkan, dalam membuat tulisan, pemilihan katanya harus mewakili produk yang ditawarkan. Harus sesuai dengan pasar yang dibidik, dan jangan sampai salah sasaran.

“Tulisan yang dibuat untuk menggambarkan produk tersebut, harus sesuai siapa audience yang akan dituju,” tegasnya.

 

5 Manfaat Menggunakan Copywriter Profesional

By Aulia R. Sungkar 

The writer is director of ALVEO 

Banyak yang berpikir bahwa semua orang bisa menulis dan menerbitkan tulisannya. Secara teknis memang semua orang bisa, tapi secara kualitas belum tentu tulisan yang dibuat sendiri mudah dipahami oleh para pembaca.

Seperti yang kita ketahui, bahwa menulis bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Terlebih jika Anda adalah seseorang yang tidak memiliki kesukaan dalam hal tulis menulis. Oleh karena itu kita membutuhkan jasa copywrirter, yaitu orang yang mengerjakan copywriting.

Copywriting merupakan teknik menulis yang menghasilkan karya dengan kemampuan kreatif yang dapat menarik pembaca untuk melakukan sesuatu “seperti yang tertulis”, atau bisa disederhanakan copywriting adalah tulisan yang membius pembacanya serta mempengaruhinya.

Berikut 5 manfaat yang bisa Anda dapatkan saat menggunakan jasa seorang copywriter professional:

  1. Komunikasi tersampaikan dengan benar

Seorang copywriter professional tahu bagaimana mengkomunikasikan pesan dengan jelas yang baik untuk membangun kepercayaan dan meningkatkan reputasi Anda. Karena copywriting yang bagus bisa membuat konsumen terkesan dan membantu Anda dalam penjualan. Sebaliknya, copywriting yang tidak jelas bisa mengurangkan kepercayaan dan merusak reputasi suatu produk atau perusahaan.

  1. Perspektif yang baik dan Solusi

Seorang copywriter profesional memiliki sebuah perspektif yang baik dan unik. Adalah mudah bagi sang copyweriter untuk memahami bisnis Anda karena copywriter akan melihatnya dari sisi luar. Copywriter tidak akan membiarkan Anda kehilangan arah dari pemahaman dengan informasi yang tidak relevan.

  1. Konten tersampaikan tepat waktu

Terjaminnya ketepatan waktu seorang copywriter dalam menyelesaikan pekerjaan menjadi salah satu alasan untuk memperkerjakan copywriter. Banyak proyek atau perusahaan yang mengalami keterlambatan dalam pembuatan content karena seseorang tidak dapat menemukan inspirasi atau waktu untuk menulis.

  1. Berperan sebagai konsultan

Banyak bisnis yang berjuang untuk menghasilkan web konten sebagai alat komunikasi marketing. Akan tetap, hal ini sering terhalang karena perbedaan pendapat sesama pembuat keputusan di dalam bisnis tersebut. Seorang copywriter profesional juga memiliki peran sebagai konsultan, dan hal ini secara langsung akan mengurangi atau menghilangkan argumen antar departemen.

  1. Menghemat Waktu

Menulis konten yang hebat memerlukan waktu yang sangat banyak sehingga dapat menyita waktu Anda. Dengan merekruit seorang copywriter profesional, Anda dapat menghemat waktu Anda dan bisa mengerjakan apa yang seharusnya Anda kerjakan.

Jadi, apakah Anda ingin membuat dan memprogram situs web yang kompleks dengan pengalaman yang minim? Jika Anda menghargai bisnis dan kesuksesan Anda, tentu paham apa yang Anda harus lakukan.

The Merits of Opting for Professional Copywriter

By Aulia R. Sungkar

The writer is director of ALVEO

Many believe that writing ability is a given, and they are confident that they can have their writing published. Technically, everyone can write, but in terms of the quality of writing, they may have a problem getting their message across to the readers.

Indeed, writing is not as easy as some people make it to be. It is even grueling for those who don’t find writing an enjoyable activity. This is where the service of a copywriter comes in handy.

Copywriting is technique of writing resulting in a product of creativity which draws readers to act on what is written. To put it simply, copywriting is a work of writing a material that sways the readers and gets them influenced.

Let’s look at the five advantages of using the service of a professional copywriter:

  1. Message Communicated Well

A professional copywriter knows how to communicate the message in a clear and succinct manner. This helps establish trust and boost your reputation. For good copywriting work can impress customers, and help you with your sales pitch. Conversely, a copywriting work, when done with lack of professionalism and focus, can damage your reputation.

  1. Good Perspective

When a copywriter works on a project, he or she is equipped with reasonable and unique perspective. A copywriter sees your business from the outside looking in; a copywriter won’t lose focus and fill the writing with irrelevant information.

  1. Content delivered on time

The guarantee of a copywriter delivering the result is another reason for using a copywriter’s service. Many projects or companies are late in delivering their content because the staff assigned to do the job has problem getting the inspiration or the time to write.

By delegating the job to a professional copywriter, the content will be available on time.

  1. An advocate for quality (who can battle internal factions)

Many businesses struggle to produce web content, as everyone in the organization has his or her own ideas about what is ‘right’ and what is ‘good.’ By delegating the job to a professional copywriter, you do away with arguments between departments, relying on an external agent to neutrally see what is right and good.

  1. Your time back

Writing good content requires time. By having someone else, a professional, to do this for you, you have the time what you are supposed to be doing.

A good business needs to have a website which is complex but delivers your message clearly. And, if you value your business and your success, the points above should help you decide whether, or not, it is sensible to invest in the service of a professional copywriter.

Peluang Menjadi Writerpreneur

Oleh: Agus Wahyudi. Dipublikasi di Enciety.co

Menulis adalah aktivitas yang makin mahal. Diktum tersebut agaknya tak berlebihan. Betapa tidak, kini makin banyak penulis yang mampu mendulang keuntungan dari kreativitas dan inovasinya. Mereka pun mampu menciptakan pasar tersendiri.

Bagaimana caranya? Kita bisa belajar dari Aulia Rachmat Sungkar. Ia menyebut dirinya sebagai writerpreneur. Aulia dulu seorang akuntan. Bekerja sebagai akuntan ternyata tak membuat dirinya nyaman. “Saya tak kuat duduk berlama-lama dalam satu meja dari pagi sampai sore,” ucapnya, lalu tersenyum.

Ketidaknyaman itu membuat dirinya mengambil pilihan hidup yang tergolong berani. Ya, Aulia memilih menjadi jurnalis. Ia pun bergabung dengan koran Jakarta Post. Pekerjaan tersebut butuh tenaga dan konsentrasi tinggi dengan deadline ketat.

Namun, setelah beberapa tahun bekerja di koran, Aulia pun mulai gerah. Bukan dengan kegiatan menulis yang ia jalani. “Bekerja di koran kan tersistem, itu yang membuat saya harus membuat pilihan untuk berhenti,” ujarnya.

Berhenti jadi jurnalis tak membuat Aulia berhenti menulis. Baginya, menulis seperti bernafas. Harus dilakukan sepanjang waktu. Tiada hari tanpa menulis. Spirit itu memompa diri Aulia untuk mengasah ide dan gagasan. Menciptakan kerativitas lewat tulisan.

Aulia yang sejak awal aktif menulis di blog, menyadari benar leverage tulisan yang mampu membuat sesuatu lebih bermakna. Lebih bertenaga, khususnya untuk memperbaiki brand. Upaya itu pun mulai ditawarkan kepada korporasi, juga orang-orang besar yang ingin menuangkan gagasannya lewat tulisan.

Gayung bersambut, beberapa ide yang ditawarkan Aulia mendapat respons positif. Beberapa perusahan besar pun menggunakan jasanya. Yang ia lakukan adalah merangkai kata-kata untuk tujuan promosi, termasuk di dalamnya branding, advertising, leaflet branding, dan masih banyak lagi.

Memang, ada perbedaanmendasar membedakan journalist writing dengan writerpreneur. Journalist writing lebih idealis, pemberitaannya lebih ideal dan faktual.  Kalau writerprener adalah copy editor yang lebih pada services.

Menurut Aulia, yang harus disadari writerpreneur adalah bukan apa yang ingin tulis, tapi bagaimana pembaca ingin membaca tulisan Anda. Makanya, pesan tulisannya harus lugas, bermakna, mudah dimengerti. “Saya selalu menggunakan kalimat-kalimat pendek dan simpel, itu  jauh lebih baik,” tutur dia.

Dia juga mengatakan, sebuah tulisan juga akan mendukung produk yang ditawarkan kepada konsumen. “Prinsipnya adalah berikan tulisan yang mudah diingat. Keep it short and simple (KISS),” imbuhnya.

Kata Aulia, semua produk harus di-branding baik itu target konsumen menengah ke atas, bahkan menengah ke bawah sekalipun. Pemilihan kata yang mewakili produk yang ditawarkan harus diperhatikan. Jangan sampai salah sasaran. “Dalam menggambarkan produk dengan tulisan, yang terpenting adalah siapa audience-nya,” terang Aulia.

Setelah beberapa tahun, Aulia mengaku sangat menikmati profesinya ini.

“Bagi saya, sukses itu kalau melakukan pekerjaan kita menyenangi,” pungkasnya.(wh)

Creative Strategy, Syarat Utama Mengawali Bisnis

Oleh: Wakhid Muqodam. Artikel ini diambil dari Suara Surabaya

Persaingan bisnis saat ini sangat ketat, sehingga setiap unit bisnis yang besar maupun kecil harus mempunyai creative strategy dalam memasarkan produk yang ditawarkan.

Hal ini disampaikan Kresnayana Yahya Business observer dalam acara Kupas Bisnis dengan tema “Advertising & Branding – Turn Them Into Business” Rabu (29/5/2013) malam di Auditorium Spazio 2nd floor.

Creative Strategy yang dimaksud Kresna adalah pelaku usaha harus tahu siapa target audience, tahu dasar masalah, isu dan kesempatan, Ide besar penjualan, kunci keuntungan, beberapa informasi pendukung lainnya.

Hal ini disampaikan Kresnayana Yahya Business observer dalam acara Kupas Bisnis dengan tema “Advertising & Branding – Turn Them Into Business” Rabu (29/5/2013) malam di Auditorium Spazio 2nd floor.

Creative Strategy yang dimaksud Kresna adalah pelaku usaha harus tahu siapa target audience, tahu dasar masalah, isu dan kesempatan, Ide besar penjualan, kunci keuntungan, beberapa informasi pendukung lainnya.

Terutama bagi usaha yang bergerak dibidang Advertaising dan Branding, kata Kresna, harus mampu memberikan yang berbeda bagi para pengiklan. “Peluang bisnis yang berkaitan dengan advertaising and branding sangat menjanjikan. Pasar iklan 2012 mencapai Rp87 Triliun, meningkat 20% dari tahun 2011. Dan tidak menuntup kemungkinan akhir tahun 2013 nanti jumlahnya juga akan meningkat,” kata dia.

Dalam acara Kupas Bisnis tersebut, hadir pula 2 pembicara lainnya Hermawan Tanzil Founder of LeBoYe Design Jakarta, dan Aulia Rachmat Sungkar Founder of the Writerpreneur – writer entrepreneur.

Herman Tanzil dalam acara tersebut menyampaikan setiap produk ataupun perusahaan haruslah mememiliki Komunikasi yang efektif salah satunya design. “Harus memiliki the power of design, karena design adalah salah satu strategi dalam pemasaran, design adalah hal penting dalam promosi,” tegas Herman.

Dalam mengembangkan usaha, design merupakan faktor penentu, apakah produk akan dengan mudah diingat, menarik dan akhirnya konsumen memutuskan membeli produk tersebut.

Oleh karena itu design logo perusahan ataupun produk harus mampu menarik perhatian konsumen. Herman menambahkan, perusahaan yang dia kelola mampu bertahan selama 23 tahun karena memiliki “The Power Of Design”.

“The power of deisgn dapat dimiliki jika make your self exited, percaya bahwa design bisa membuat hidup lebih baik, indah, menarik, design itu semua memungkinkan, think global with Identity, Setiap project kita design, seperti memunculkan diri kita sendiri, Never think that your client has a bad tasted,” kata dia.

Aulia Rachmat Sungkar dari the Writerpreneur – writer entrepreneur juga menambahkan dalam presentasinya semua produk harus di Branding baik itu target konsumen menengah keatas bahkan menengah kebawah sekalipun.

Dia juga mengatakan, sebuah tulisan juga akan mendukung produk yang ditawarkan kepada konsumen. “Prinsipnya adalah berikan tulisan yang mudah diingat, dengan prinsip keep it short and simple (KISS),” kata Aulia Rachmat Sungkar.

Pemilihan kata yang mewakili produk yang ditawarkan, ini juga harus diperhatikan. Jangan sampai salah sasaran. “Dalam menggambarkan produk dengan tulisan, yang terpenting adalah siapa audiencenya,” jelas dia. (wak/edy)

Edit Tulisan Anda

By Gandi Faisal

Hari ini, semua orang menulis. Yang dibutuhkan adalah sepuluh jari, atau cukup dua ibu jari, pemahaman mengenai tata bahasa (ala kadarnya saja), dan secuil informasi yang menurut mereka pantas diabadikan dan seluruh dunia wajib ketahui. Tapi apakah dengan menulis menjadikan seseorang penulis? Tentu tidak. Menulis adalah seni yang dipelajari dan dipraktikkan. Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mencapai tingkat kemampuan yang dapat membuat kita pantas disebut sebagai penulis. Bahkan saat sebagian orang menganggap kita sudah dapat menulis dengan baik, sebagian yang lain akan melihat tulisan kita dan menggelengkan kepala. Mereka membaca apa yang kita tulis dengan ekspektasi tidak hanya memahami pesan yang ingin kita sampaikan; mereka ingin melihat tulisan yang menarik, mudah dipahami karena menggunakan tata bahasa yang baik, dan mendapatkan pengalaman yang memperkaya diri mereka.

Penulis memiliki editor—dan ini adalah satu keuntungan. Tentu, ada kalanya penulis dan editor terlibat dalam perdebatan sengit mengenai apa yang pantas ada di dalam tulisan. Keduanya memiliki argumennya sendiri, namun biasanya, editor memenangkan perdebatan, atau setidaknya penulis dan editor mencapai kata sepakat dalam menentukan apa yang perlu diubah, dan apa yang harus disingkirkan dari atau ditambahkan ke dalam naskah.

Penulis yang baik akan selalu mengembangkan keahlian menulisnya, termasuk kemampuannya untuk mengedit sendiri materi yang telah ditulis. Semakin sering penulis mengasah kemampuan mengedit tulisannya sendiri, semakin dia mengetahui apa yang terbaik yang harus dia masukkan ke dalam tulisan, dan ini akan membuatnya menjadi penulis yang lebih baik (dan meringankan pekerjaan editor). Berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu Anda mengedit tulisan Anda sendiri.

Berhenti Menulis dan Kerjakan Hal Lain

Penulis yang bekerja tanpa dikejar tenggat waktu pantas melakukan hal ini. Dengan menjauhkan diri dari materi yang sedang kita kerjakan, kita membuat jarak emosional antara kita dengan buah karya kita. Ini diperlukan karena disadari atau tidak, saat kita menulis, kita juga menyuntikkan ego kita ke dalam tulisan. Akibatnya, saat tulisan kita dikomentari, bahkan dipertanyakan, oleh editor kita akan bersikap defensif. Stephen King dalam bukunya On Writing juga mengingatkan perlunya melakukan ini. Dalam proses menulis novelnya, beliau bahkan sering kali berhenti di tengah-tengah penulisan, dan mulai menulis novel lain!

Cetak naskah dan Tinggalkan

Ini berhubungan langsung dengan tips pertama. Melakukan hal ini memang merepotkan. Tapi hal ini juga perlu dilakukan. Stephen King, juga dalam On Writing, menulis bahwa dia melakukan hal ini. Naskah yang telah selesai diketik akan dia simpan di dalam kotak sepatu, dan dia melakukan tips pertama: Membuat jarak dengan naskah itu dengan mengisi waktunya dengan menulis buku lain. Terkadang satu naskah dapat tersimpan di dalam kotak sepatu di dasar lemarinya hingga berbulan-bulan. Saat dia mengambilnya dari kotak sepatu dan membacanya kembali, dia akan membacanya dengan kaca mata seorang pembaca, bukan penulis naskah itu. Dia akan menemukan hal-hal yang menurutnya pantas diubah. Kita pun dapat menirunya.

Karena kita tidak sedang menyusun novel dan tentunya tak punya waktu berbulan-bulan, beberapa hari atau jam juga cukup: Print naskah yang telah Anda selesaikan; lakukan sesuatu, misalnya pergi keluar rumah untuk berbelanja atau bertemu teman, menonton film, atau membaca buku. Saat Anda ambil kembali naskah yang telah Anda ketik di komputer dan kini ada tercetak di lembaran kertas (dalam format berbeda dengan saat Anda mengetik naskah tersebut), Anda akan melihat hal-hal yang dapat Anda ubah karena Anda kini memiliki jarak dengan tulisan yang ada di tangan Anda.

Membaca Tulisan dengan Suara Lantang sekaligus Berperan Sebagai Pendengar

Tulisan yang baik mengalir dengan baik saat dibaca. Satu cara untuk memastikan apakah tulisan mengalir dengan baik adalah dengan membacanya dengan suara lantang. Artinya, kita mendengar tulisan itu dibacakan. Apakah tulisan kita menggunakan bahasa yang mudah dicerna sehingga tak akan membuat pembaca/pendengar mengantuk? Itulah yang kita inginkan.

Jangan Sungkan

Saatnya Anda mengedit tulisan Anda. Jangan sungkan saat Anda melakukannya. Baca kembali kalimat yang tercetak. Pertimbangkan kembali kata dan frasa yang Anda pilih. Analisis tanda-tanda baca yang Anda gunakan. Coret, lingkari, ubah. Pastikan pada akhirnya Anda mendapatkan tulisan yang menyampaikan pesan yang ingin Anda sampaikan secara efektif dan jelas, dan mudah dibaca.

Pastikan Anda tidak menulis paragraf yang terlalu panjang. Beberapa kalimat seharusnya cukup menyampaikan sebuah ide utama dan menjelaskannya dengan beberapa kalimat pendukung.

Tandai kata sifat dan kata keterangan di tulisan Anda. Pertimbangkan kembali apakah mereka memang benar-benar diperlukan. Pastikan apakah tidak lebih jika Anda menggantikan mereka dengan kata kerja yang lebih efektif.

Yang terakhir dan tidak kalah penting, yakinlah dengan apa yang Anda tulis. Sewaktu saya masih mengajar, saya selalu mengingatkan para siswa untuk percaya diri dengan apa yang mereka tulis dan percaya diri saat mereka harus mempresentasikan apa yang mereka tulis. Bahkan apabila mereka sebetulnya tidak yakin dengan beberapa poin yang mereka kemukakan, mereka harus dapat menyembunyikan ketidakyakinan itu. Hindari menulis kata atau frasa seperti ini: ‘Menurut saya,…’, ‘Sepertinya,…’, ‘Mungkin saja…’ Tunjukkan keyakinan Anda, bahkan di saat Anda sendiri tidak sepenuhnya yakin.

Mengedit tulisan sendiri akan terasa merepotkan, bahkan menyiksa karena kita harus ‘merusak’ buah karya kita sendiri. Tapi Anda perlu meyakinkan diri Anda bahwa tulisan Anda adalah Anda. Bayangkan bahwa saat orang-orang membaca apa yang Anda tulis, mereka melihat Anda. Tentunya, Anda ingin menampilkan sisi terbaik Anda, dan itu dapat dilakukan dengan memastikan Anda tampak baik, dan tidak berlebihan.