Articles

Perkuat Branding dengan KISS

Oleh: Wakhid Muqodam. Artikel dipublikasi di Surabaya City Guide edisi Juli 2013.

Semua produk harus dibranding dengan baik. Tidak terkecuali apakah target konsumennya menengah ke atas, atau bahkan menengah ke bawah.

Ollie-Kupas Bisnis

Konsep ditegaskan Aulia Rachmat Sungkar, Writerpreneur, ketika menjadi pembicara pada Kupas Bisnis bertema Advertising & Branding – Turn Them Into Business, akhir Mei lalu di Spazio 2nd floor.

Copywriter asal Jakarta itu mengatakan, dalam konteks branding, sebuah tulisan bisa sangat mendukung sebuah produk yang akan ditawarkan kepada konsumen.

“Prinsipnya, tulisan harus mudah diingat. Tulisan harus mengandung prinsip keep it short and simple (KISS),” tuturnya.

Ia menambahkan, dalam membuat tulisan, pemilihan katanya harus mewakili produk yang ditawarkan. Harus sesuai dengan pasar yang dibidik, dan jangan sampai salah sasaran.

“Tulisan yang dibuat untuk menggambarkan produk tersebut, harus sesuai siapa audience yang akan dituju,” tegasnya.

 

5 Manfaat Menggunakan Copywriter Profesional

By ALVEO

Banyak yang berpikir bahwa semua orang bisa menulis dan menerbitkan tulisannya. Secara teknis memang semua orang bisa, tapi secara kualitas belum tentu tulisan yang dibuat sendiri mudah dipahami oleh para pembaca.

Seperti yang kita ketahui, bahwa menulis bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Terlebih jika Anda adalah seseorang yang tidak memiliki kesukaan dalam hal tulis menulis. Oleh karena itu kita membutuhkan jasa copywrirter, yaitu orang yang mengerjakan copywriting.

Copywriting merupakan teknik menulis yang menghasilkan karya dengan kemampuan kreatif yang dapat menarik pembaca untuk melakukan sesuatu “seperti yang tertulis”, atau bisa disederhanakan copywriting adalah tulisan yang membius pembacanya serta mempengaruhinya.

Berikut 5 manfaat yang bisa Anda dapatkan saat menggunakan jasa seorang copywriter professional:

  1. Komunikasi tersampaikan dengan benar

Seorang copywriter professional tahu bagaimana mengkomunikasikan pesan dengan jelas yang baik untuk membangun kepercayaan dan meningkatkan reputasi Anda. Karena copywriting yang bagus bisa membuat konsumen terkesan dan membantu Anda dalam penjualan. Sebaliknya, copywriting yang tidak jelas bisa mengurangkan kepercayaan dan merusak reputasi suatu produk atau perusahaan.

  1. Perspektif yang baik dan Solusi

Seorang copywriter profesional memiliki sebuah perspektif yang baik dan unik. Adalah mudah bagi sang copyweriter untuk memahami bisnis Anda karena copywriter akan melihatnya dari sisi luar. Copywriter tidak akan membiarkan Anda kehilangan arah dari pemahaman dengan informasi yang tidak relevan.

  1. Konten tersampaikan tepat waktu

Terjaminnya ketepatan waktu seorang copywriter dalam menyelesaikan pekerjaan menjadi salah satu alasan untuk memperkerjakan copywriter. Banyak proyek atau perusahaan yang mengalami keterlambatan dalam pembuatan content karena seseorang tidak dapat menemukan inspirasi atau waktu untuk menulis.

  1. Berperan sebagai konsultan

Banyak bisnis yang berjuang untuk menghasilkan web konten sebagai alat komunikasi marketing. Akan tetap, hal ini sering terhalang karena perbedaan pendapat sesama pembuat keputusan di dalam bisnis tersebut. Seorang copywriter profesional juga memiliki peran sebagai konsultan, dan hal ini secara langsung akan mengurangi atau menghilangkan argumen antar departemen.

  1. Menghemat Waktu

Menulis konten yang hebat memerlukan waktu yang sangat banyak sehingga dapat menyita waktu Anda. Dengan merekruit seorang copywriter profesional, Anda dapat menghemat waktu Anda dan bisa mengerjakan apa yang seharusnya Anda kerjakan.

Jadi, apakah Anda ingin membuat dan memprogram situs web yang kompleks dengan pengalaman yang minim? Jika Anda menghargai bisnis dan kesuksesan Anda, tentu paham apa yang Anda harus lakukan.

Peluang Menjadi Writerpreneur

Oleh: Agus Wahyudi. Dipublikasi di Enciety.co

Menulis adalah aktivitas yang makin mahal. Diktum tersebut agaknya tak berlebihan. Betapa tidak, kini makin banyak penulis yang mampu mendulang keuntungan dari kreativitas dan inovasinya. Mereka pun mampu menciptakan pasar tersendiri.

Bagaimana caranya? Kita bisa belajar dari Aulia Rachmat Sungkar. Ia menyebut dirinya sebagai writerpreneur. Aulia dulu seorang akuntan. Bekerja sebagai akuntan ternyata tak membuat dirinya nyaman. “Saya tak kuat duduk berlama-lama dalam satu meja dari pagi sampai sore,” ucapnya, lalu tersenyum.

Ketidaknyaman itu membuat dirinya mengambil pilihan hidup yang tergolong berani. Ya, Aulia memilih menjadi jurnalis. Ia pun bergabung dengan koran Jakarta Post. Pekerjaan tersebut butuh tenaga dan konsentrasi tinggi dengan deadline ketat.

Namun, setelah beberapa tahun bekerja di koran, Aulia pun mulai gerah. Bukan dengan kegiatan menulis yang ia jalani. “Bekerja di koran kan tersistem, itu yang membuat saya harus membuat pilihan untuk berhenti,” ujarnya.

Berhenti jadi jurnalis tak membuat Aulia berhenti menulis. Baginya, menulis seperti bernafas. Harus dilakukan sepanjang waktu. Tiada hari tanpa menulis. Spirit itu memompa diri Aulia untuk mengasah ide dan gagasan. Menciptakan kerativitas lewat tulisan.

Aulia yang sejak awal aktif menulis di blog, menyadari benar leverage tulisan yang mampu membuat sesuatu lebih bermakna. Lebih bertenaga, khususnya untuk memperbaiki brand. Upaya itu pun mulai ditawarkan kepada korporasi, juga orang-orang besar yang ingin menuangkan gagasannya lewat tulisan.

Gayung bersambut, beberapa ide yang ditawarkan Aulia mendapat respons positif. Beberapa perusahan besar pun menggunakan jasanya. Yang ia lakukan adalah merangkai kata-kata untuk tujuan promosi, termasuk di dalamnya branding, advertising, leaflet branding, dan masih banyak lagi.

Memang, ada perbedaanmendasar membedakan journalist writing dengan writerpreneur. Journalist writing lebih idealis, pemberitaannya lebih ideal dan faktual.  Kalau writerprener adalah copy editor yang lebih pada services.

Menurut Aulia, yang harus disadari writerpreneur adalah bukan apa yang ingin tulis, tapi bagaimana pembaca ingin membaca tulisan Anda. Makanya, pesan tulisannya harus lugas, bermakna, mudah dimengerti. “Saya selalu menggunakan kalimat-kalimat pendek dan simpel, itu  jauh lebih baik,” tutur dia.

Dia juga mengatakan, sebuah tulisan juga akan mendukung produk yang ditawarkan kepada konsumen. “Prinsipnya adalah berikan tulisan yang mudah diingat. Keep it short and simple (KISS),” imbuhnya.

Kata Aulia, semua produk harus di-branding baik itu target konsumen menengah ke atas, bahkan menengah ke bawah sekalipun. Pemilihan kata yang mewakili produk yang ditawarkan harus diperhatikan. Jangan sampai salah sasaran. “Dalam menggambarkan produk dengan tulisan, yang terpenting adalah siapa audience-nya,” terang Aulia.

Setelah beberapa tahun, Aulia mengaku sangat menikmati profesinya ini.

“Bagi saya, sukses itu kalau melakukan pekerjaan kita menyenangi,” pungkasnya.(wh)

Creative Strategy, Syarat Utama Mengawali Bisnis

Oleh: Wakhid Muqodam. Artikel ini diambil dari Suara Surabaya

Persaingan bisnis saat ini sangat ketat, sehingga setiap unit bisnis yang besar maupun kecil harus mempunyai creative strategy dalam memasarkan produk yang ditawarkan.

Hal ini disampaikan Kresnayana Yahya Business observer dalam acara Kupas Bisnis dengan tema “Advertising & Branding – Turn Them Into Business” Rabu (29/5/2013) malam di Auditorium Spazio 2nd floor.

Creative Strategy yang dimaksud Kresna adalah pelaku usaha harus tahu siapa target audience, tahu dasar masalah, isu dan kesempatan, Ide besar penjualan, kunci keuntungan, beberapa informasi pendukung lainnya.

Hal ini disampaikan Kresnayana Yahya Business observer dalam acara Kupas Bisnis dengan tema “Advertising & Branding – Turn Them Into Business” Rabu (29/5/2013) malam di Auditorium Spazio 2nd floor.

Creative Strategy yang dimaksud Kresna adalah pelaku usaha harus tahu siapa target audience, tahu dasar masalah, isu dan kesempatan, Ide besar penjualan, kunci keuntungan, beberapa informasi pendukung lainnya.

Terutama bagi usaha yang bergerak dibidang Advertaising dan Branding, kata Kresna, harus mampu memberikan yang berbeda bagi para pengiklan. “Peluang bisnis yang berkaitan dengan advertaising and branding sangat menjanjikan. Pasar iklan 2012 mencapai Rp87 Triliun, meningkat 20% dari tahun 2011. Dan tidak menuntup kemungkinan akhir tahun 2013 nanti jumlahnya juga akan meningkat,” kata dia.

Dalam acara Kupas Bisnis tersebut, hadir pula 2 pembicara lainnya Hermawan Tanzil Founder of LeBoYe Design Jakarta, dan Aulia Rachmat Sungkar Founder of the Writerpreneur – writer entrepreneur.

Herman Tanzil dalam acara tersebut menyampaikan setiap produk ataupun perusahaan haruslah mememiliki Komunikasi yang efektif salah satunya design. “Harus memiliki the power of design, karena design adalah salah satu strategi dalam pemasaran, design adalah hal penting dalam promosi,” tegas Herman.

Dalam mengembangkan usaha, design merupakan faktor penentu, apakah produk akan dengan mudah diingat, menarik dan akhirnya konsumen memutuskan membeli produk tersebut.

Oleh karena itu design logo perusahan ataupun produk harus mampu menarik perhatian konsumen. Herman menambahkan, perusahaan yang dia kelola mampu bertahan selama 23 tahun karena memiliki “The Power Of Design”.

“The power of deisgn dapat dimiliki jika make your self exited, percaya bahwa design bisa membuat hidup lebih baik, indah, menarik, design itu semua memungkinkan, think global with Identity, Setiap project kita design, seperti memunculkan diri kita sendiri, Never think that your client has a bad tasted,” kata dia.

Aulia Rachmat Sungkar dari the Writerpreneur – writer entrepreneur juga menambahkan dalam presentasinya semua produk harus di Branding baik itu target konsumen menengah keatas bahkan menengah kebawah sekalipun.

Dia juga mengatakan, sebuah tulisan juga akan mendukung produk yang ditawarkan kepada konsumen. “Prinsipnya adalah berikan tulisan yang mudah diingat, dengan prinsip keep it short and simple (KISS),” kata Aulia Rachmat Sungkar.

Pemilihan kata yang mewakili produk yang ditawarkan, ini juga harus diperhatikan. Jangan sampai salah sasaran. “Dalam menggambarkan produk dengan tulisan, yang terpenting adalah siapa audiencenya,” jelas dia. (wak/edy)

Edit Tulisan Anda

By Gandi Faisal

Hari ini, semua orang menulis. Yang dibutuhkan adalah sepuluh jari, atau cukup dua ibu jari, pemahaman mengenai tata bahasa (ala kadarnya saja), dan secuil informasi yang menurut mereka pantas diabadikan dan seluruh dunia wajib ketahui. Tapi apakah dengan menulis menjadikan seseorang penulis? Tentu tidak. Menulis adalah seni yang dipelajari dan dipraktikkan. Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mencapai tingkat kemampuan yang dapat membuat kita pantas disebut sebagai penulis. Bahkan saat sebagian orang menganggap kita sudah dapat menulis dengan baik, sebagian yang lain akan melihat tulisan kita dan menggelengkan kepala. Mereka membaca apa yang kita tulis dengan ekspektasi tidak hanya memahami pesan yang ingin kita sampaikan; mereka ingin melihat tulisan yang menarik, mudah dipahami karena menggunakan tata bahasa yang baik, dan mendapatkan pengalaman yang memperkaya diri mereka.

Penulis memiliki editor—dan ini adalah satu keuntungan. Tentu, ada kalanya penulis dan editor terlibat dalam perdebatan sengit mengenai apa yang pantas ada di dalam tulisan. Keduanya memiliki argumennya sendiri, namun biasanya, editor memenangkan perdebatan, atau setidaknya penulis dan editor mencapai kata sepakat dalam menentukan apa yang perlu diubah, dan apa yang harus disingkirkan dari atau ditambahkan ke dalam naskah.

Penulis yang baik akan selalu mengembangkan keahlian menulisnya, termasuk kemampuannya untuk mengedit sendiri materi yang telah ditulis. Semakin sering penulis mengasah kemampuan mengedit tulisannya sendiri, semakin dia mengetahui apa yang terbaik yang harus dia masukkan ke dalam tulisan, dan ini akan membuatnya menjadi penulis yang lebih baik (dan meringankan pekerjaan editor). Berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu Anda mengedit tulisan Anda sendiri.

Berhenti Menulis dan Kerjakan Hal Lain

Penulis yang bekerja tanpa dikejar tenggat waktu pantas melakukan hal ini. Dengan menjauhkan diri dari materi yang sedang kita kerjakan, kita membuat jarak emosional antara kita dengan buah karya kita. Ini diperlukan karena disadari atau tidak, saat kita menulis, kita juga menyuntikkan ego kita ke dalam tulisan. Akibatnya, saat tulisan kita dikomentari, bahkan dipertanyakan, oleh editor kita akan bersikap defensif. Stephen King dalam bukunya On Writing juga mengingatkan perlunya melakukan ini. Dalam proses menulis novelnya, beliau bahkan sering kali berhenti di tengah-tengah penulisan, dan mulai menulis novel lain!

Cetak naskah dan Tinggalkan

Ini berhubungan langsung dengan tips pertama. Melakukan hal ini memang merepotkan. Tapi hal ini juga perlu dilakukan. Stephen King, juga dalam On Writing, menulis bahwa dia melakukan hal ini. Naskah yang telah selesai diketik akan dia simpan di dalam kotak sepatu, dan dia melakukan tips pertama: Membuat jarak dengan naskah itu dengan mengisi waktunya dengan menulis buku lain. Terkadang satu naskah dapat tersimpan di dalam kotak sepatu di dasar lemarinya hingga berbulan-bulan. Saat dia mengambilnya dari kotak sepatu dan membacanya kembali, dia akan membacanya dengan kaca mata seorang pembaca, bukan penulis naskah itu. Dia akan menemukan hal-hal yang menurutnya pantas diubah. Kita pun dapat menirunya.

Karena kita tidak sedang menyusun novel dan tentunya tak punya waktu berbulan-bulan, beberapa hari atau jam juga cukup: Print naskah yang telah Anda selesaikan; lakukan sesuatu, misalnya pergi keluar rumah untuk berbelanja atau bertemu teman, menonton film, atau membaca buku. Saat Anda ambil kembali naskah yang telah Anda ketik di komputer dan kini ada tercetak di lembaran kertas (dalam format berbeda dengan saat Anda mengetik naskah tersebut), Anda akan melihat hal-hal yang dapat Anda ubah karena Anda kini memiliki jarak dengan tulisan yang ada di tangan Anda.

Membaca Tulisan dengan Suara Lantang sekaligus Berperan Sebagai Pendengar

Tulisan yang baik mengalir dengan baik saat dibaca. Satu cara untuk memastikan apakah tulisan mengalir dengan baik adalah dengan membacanya dengan suara lantang. Artinya, kita mendengar tulisan itu dibacakan. Apakah tulisan kita menggunakan bahasa yang mudah dicerna sehingga tak akan membuat pembaca/pendengar mengantuk? Itulah yang kita inginkan.

Jangan Sungkan

Saatnya Anda mengedit tulisan Anda. Jangan sungkan saat Anda melakukannya. Baca kembali kalimat yang tercetak. Pertimbangkan kembali kata dan frasa yang Anda pilih. Analisis tanda-tanda baca yang Anda gunakan. Coret, lingkari, ubah. Pastikan pada akhirnya Anda mendapatkan tulisan yang menyampaikan pesan yang ingin Anda sampaikan secara efektif dan jelas, dan mudah dibaca.

Pastikan Anda tidak menulis paragraf yang terlalu panjang. Beberapa kalimat seharusnya cukup menyampaikan sebuah ide utama dan menjelaskannya dengan beberapa kalimat pendukung.

Tandai kata sifat dan kata keterangan di tulisan Anda. Pertimbangkan kembali apakah mereka memang benar-benar diperlukan. Pastikan apakah tidak lebih jika Anda menggantikan mereka dengan kata kerja yang lebih efektif.

Yang terakhir dan tidak kalah penting, yakinlah dengan apa yang Anda tulis. Sewaktu saya masih mengajar, saya selalu mengingatkan para siswa untuk percaya diri dengan apa yang mereka tulis dan percaya diri saat mereka harus mempresentasikan apa yang mereka tulis. Bahkan apabila mereka sebetulnya tidak yakin dengan beberapa poin yang mereka kemukakan, mereka harus dapat menyembunyikan ketidakyakinan itu. Hindari menulis kata atau frasa seperti ini: ‘Menurut saya,…’, ‘Sepertinya,…’, ‘Mungkin saja…’ Tunjukkan keyakinan Anda, bahkan di saat Anda sendiri tidak sepenuhnya yakin.

Mengedit tulisan sendiri akan terasa merepotkan, bahkan menyiksa karena kita harus ‘merusak’ buah karya kita sendiri. Tapi Anda perlu meyakinkan diri Anda bahwa tulisan Anda adalah Anda. Bayangkan bahwa saat orang-orang membaca apa yang Anda tulis, mereka melihat Anda. Tentunya, Anda ingin menampilkan sisi terbaik Anda, dan itu dapat dilakukan dengan memastikan Anda tampak baik, dan tidak berlebihan.

Press Releases: 10 Common Mistakes

Whether you’re organising a festival or shouting about your show, keep these no-nos in mind before emailing arts editors 

Press releases are a presentation of facts, written for journalists in the hope it gets published. They are an opportunity for brands, businesses and arts organisations to reach their target audience through the media. They aim to tell the world about your interesting stories, anything from an arts product launch to a new appointment or award.

As the press release is seen as less important with the explosion of social media and the digital revolution transforming media as we know it, they can still be very effective at securing positive media coverage and are a great way to boost your profile and attract new customers or audience members.

Press releases can be written by yourself, someone within your company or an external supplier such as a PR agency or freelancer, and there are many common mistakes people make when drafting one. Here are my top 10 and how you can avoid making them yourself.


The title isn’t working

The title of your press release is the first thing a journalist will see, so make sure it’s concise, enticing and gives a good overview of your story. Make your title something that will encourage the journalist to keep reading. Avoid lengthy, detailed titles that go on and on and on… Keep it punchy. If you must use puns, make sure they are witty and avoid using clichés at all times.

It’s written in the first person

If you read any news story online or in your local newspaper, you’ll notice everything is written in the third person – unless we’re talking about quotes from actual people, of course. There should never be any “We did this” or “I think that” written in the body of a good press release – you have to imagine that someone else is telling your story at all times. A good tip is to pick up any newspaper and see how stories are written; you’ll notice everything that third person voice , as though the journalist is telling the reader about someone or something else.

You’re not providing enough information

Don’t make the assumption that a journalist will know everything about you, so make sure you include all the facts. Try to add a summary in your first paragraph, including where your arts organisation is based, the company name and the angle of the story. You wouldn’t believe the amount of times I’ve had to look up where a company is based on Google, just so I can add it to their story on Creative Boom. Some journalists won’t be as patient, so make sure you add all the information.

You’re forgetting to add proper punctuation

If you’re going to write a press release it’s essential you use proper punctuation throughout. Journalists are time and resource poor these days, so make their job as easy and as hassle-free as possible by providing ‘ready to publish’ copy. That way they don’t have to waste too much time double checking everything you’ve written. By supplying first-class copy, it will also gain you a solid reputation as someone who is reliable and provides quality press releases at all times – someone they’ll want to publish stories for again in the future.

There’s lifted copy from an internal newsletter or website

Copy written specifically for your own arts website or company newsletter will not work for a press release – it’s likely to be written in the first person, be too self-promotional and won’t have a journalist in mind. Don’t be lazy by providing something that you’ve already used internally. Start from scratch and write your news story specifically for the newspaper, e-zine or magazine you’ll be targeting. Aim to mimic their own style of writing.

It’s not making the most of quotes

Once you’ve established an angle for your story, you should always provide one or two quotes from yourself or a spokesperson involved in the performance, project or event. But whatever you do, don’t let these quotes go to waste. They are the only thing journalists can’t change, so make the most of them by throwing in some strong key messages. Sure, the journalist might not use them, but don’t repeat what has already been said elsewhere in the press release – use quotes as an opportunity to really sell yourself and your company. Keep them positive, upbeat and to the point.

There are too many CAPS

Something that really bugs journalists is the use of CAPS to emphasise certain names or words throughout a press release. For example, “CREATIVE BOOM is an online magazine for the creative industries” – it looks odd, a little sneaky and means the journalist has to go back through the entire release and change everything to lowercase. Avoid CAPS because you don’t need to highlight your company’s name; it will be quite obvious without.

It’s too short

Short isn’t always sweet. Although you never want to waffle when drafting a press release, don’t make the mistake of not providing enough content. More than anything, a journalist will want to get all the facts so make sure you include as much information as possible. You can still be concise and stay on track but don’t forget to include every little detail. If in doubt, consider the golden rule of Who, What, Where, When Why and How – ask yourself if you’ve answered all these questions before sending the release.

Your copy is too promotional

When you’ve completed your press release, sit back and read it through. Does it scream “Please buy tickets to our show!?” or have you given a nice rounded overview of what the production or performance is? You see, although press releases are promotional, they are not advertisements – they are a presentation of facts, so keep it factual and use objective copy at all times.

There’s too much over-hyped copy (exclamation mark!)

Copy that is littered with exclamation marks and wild claims about your exhibition, event or service screams spam and will only end up in a journalists spam folder. Avoid unnecessary adjectives because it will only read like an advertisement and that’s something you’ll want to avoid.

Those are just a few of the common mistakes people make when writing a press release. If you’ve got any of your own top tips, stories or ideas then please share them by commenting below. I always appreciate your positive input, so we can help as many other arts professionals and creatives as possible.

This content was originally published by Creative Boom

Katy Cowan runs the Creative Boom website voluntarily – she is a trained journalist, writer and PR professional. Follow her and Creative Boom on Twitter @Creative_Boom

Translation, localization and copywriting

What are the differences between translation, localization and copywriting

10-large-June-30-blog

 

 

 

 

 

 

When attempting to convey your company’s marketing materials to a foreign reader, there are several ways to express your thoughts, but what is the best way – for you?Technically, we all know what translation is, but do you know the difference between translation and localization? And what about copywriting? These terms sound vastly similar, but the processes involved are in fact different.

This article will guide you through these differences, including advantages and disadvantages, to facilitate you in making a more informed decision pertaining to your global business needs.

Translation

Translation is the process of literally interpreting the content of the source language into a target language while strictly adhering to the content, the tone, and the style of the source language. It rarely makes adjustments to fit the cultural context of the target language. In other words, the content stays exactly the same. A classic example of literal translation would be “ants climbing a tree”, a direct, straightforward English translation of the classic Chinese dish “螞蟻上樹(ma-yi-shang-su)”. This might seem off-putting and bizarre for the native English speakers who have little knowledge about Chinese cuisines, and thus, might prove to be a barrier for a food-related business or a restaurant hoping to expand to English-speaking markets.

While translation may be the most efficient,and least expensive of the three, if the context and culture of the source language and its target language vastly diverge from one another, it may come across as stiff and awkward. The writing may seem too foreign for the readers and thus hard to follow, rendering your message less persuasive. Within experienced translators, a company’s brand could suffer. To avoid negative impacts, you could construct translation memory (TM) – key terms or phrases that you wish to be translated into a certain way – to enhance the consistency and accuracy of the translations, and to collaborate with competent translation service providers.

Localization

Localization conforms to the target language, making the finished product culturally appropriate for the audience. Rather than rigid word-for-word translations, localization takes the culture of the target language into account, and while the meaning remains much the same, examples and images may be changed to fit local expectations. For instance, in a culturally-appropriate McDonald’s advertisement in a Muslim country, pork would be taken off the menu. Continuing the example of “ants climbing a tree,” a more appropriate, localized version of the Chinese dish would be “spicy glass noodles with ground pork”.

Advantages of localization over translation include that it is a decent compromise between literal translation and complete copywriting; it is a smaller investment in time and money compared to copywriting, and it does not deviate from the meaning of your intended message, while adding more “familiarity” for the readers, allowing for greater resonance. Constructing a TM will also greatly enhance the quality of the output. On the other hand, it may still be constrained by the effectiveness and quality of the original language provided, as localization does not call for a complete rewrite.

Copywriting

Copywriting, or transcreation, is the process of re-creating the source language in a much more creative fashion.This is much less restrained, with the content and the flow of the work open to writer interpretation. For global marketing campaigns, this is usually the most effective, as the writer can exert much creativity and truly convey your brand/corporate message, unrestrained to the context of the source language. In fact, different content could be developed to meet your business objectives, and the language is developed in the local language rather than translated, allowing maximum reach to the target audience.

Copywriting may be expensive since prolonged discussion process can be time-consuming. It requires creative talents and you are mostly at the liberty of the writer’s subjectivity which could potentially lower the overall consistency of your global branding. In addition, your original message may be modified or changed altogether for the purpose of the business objective. Alternatively, the key advantages of copywriting are that it minimizes the risk of translation errors, the writing is more appealing and relatable to the local audience. This is extremely crucial in branding and the most attractive way to convey your business to your intended market.

Source: what are the differences between translation, localization and copywriting